Suara Kalimantan Kini – MALINAU, Selasa (7/4/2026), keterisolasian masih menjadi potret nyata bagi masyarakat di Kecamatan Pujungan dan Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Hingga saat ini, urat nadi perekonomian dan mobilitas warga di dua wilayah perbatasan ini masih bergantung sepenuhnya pada jalur sungai yang ekstrem dan transportasi udara yang terbatas.
Meskipun pesawat perintis tersedia, keterbatasan muatan serta biaya yang tinggi membuat mayoritas warga lebih memilih menggunakan jalur sungai dengan jasa Long Boat. Namun, pilihan ini bukan tanpa risiko; taruhannya adalah nyawa.
Rony Manan, seorang konten kreator lokal asal Bahau Hulu, aktif membagikan realita perjalanan ini melalui media sosial Facebook-nya. Ia memotret kontrasnya perjalanan antara udara dan sungai yang harus dihadapi warga setiap harinya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Rony, perjalanan menggunakan Long Boat memiliki tantangan waktu dan medan yang sangat berat:
• Tanjung Selor menuju Pujungan/Bahau Hulu: Memakan waktu dua hari karena harus melawan arus sungai yang deras (mudik).
• Pujungan/Bahau Hulu menuju Tanjung Selor: Memakan waktu satu hari karena mengikuti arus sungai (hilir).
“Besar harapan kami dapat dibangunkan jalan darat. Akses sungai ini sangat berbahaya. Untuk menuju ke sana, bukan saja kita harus siap kehilangan harta benda, nyawa pun tidak ada jaminannya,” ujar Rony dalam unggahannya.
Giram Entak Liang: Kuburan bagi Kapal yang Karam. Bahaya utama yang dihadapi warga adalah keberadaan jeram-jeram besar atau “giram” yang ganas. Salah satu titik yang paling ditakuti adalah Giram Entak Liang.
Rony memaparkan bahwa sudah banyak kejadian memilukan di mana kapal tidak kuat menanjak di titik giram tersebut hingga akhirnya karam.
• Risiko: Kapal terbalik akibat arus liar.
• Dampak: Kehilangan logistik, harta benda, hingga korban jiwa.
• Kondisi: Sudah sering memakan korban karena long boat gagal menaklukkan tanjakan air di jeram tersebut.
Mewakili suara masyarakat di perbatasan, Rony Manan berharap pemerintah—baik tingkat Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara, maupun Pemerintah Pusat—segera memberikan perhatian serius pada pembangunan infrastruktur jalan darat.
“Kami sangat merindukan akses darat agar mobilitas lebih aman dan biaya logistik tidak mencekik. Kami tidak ingin terus-menerus bertaruh nyawa di sungai hanya untuk sampai ke pusat kota,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat di dua kecamatan tersebut masih menanti kepastian kapan “kemerdekaan” akses transportasi darat dapat mereka rasakan, agar Giram Entak Liang tidak lagi menjadi momok yang menakutkan bagi warga.(*)
Penulis : Badrun
Editor : Sahran
















